masukkan script iklan disini
SEMARANG – Dengan sebuah pantun pembuka yang membangkitkan semangat, Ketua Umum DPP Astina, Lilik Subaryanto, SS, memberikan sambutan yang berapi-api dalam Astina Learning & Entrepreneurship Conference 2025. Inti pesannya jelas: transformasi pendidikan kesetaraan hanya akan berhasil jika ada sinergi total antara kebijakan pemerintah di level atas dan gairah para tutor di akar rumput.
"Pergi ke Tugu Muda di Kota Semarang, singgah sebentar membeli lumpia. Astina hadir membawa semangat juang, wujudkan merdeka belajar untuk semua," ucap Lilik, disambut tepuk tangan peserta.
Dalam pidatonya, Lilik menekankan bahwa konferensi ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah gerakan untuk "mengobarkan semangat baru bagi pendidikan kesetaraan".
Misi Tiga Pilar: Relevan, Produktif, Menggembirakan
Lilik memaparkan visi Astina secara lugas. Menurutnya, tantangan saat ini menuntut pendidikan kesetaraan untuk bergerak melampaui standar minimal.
"Misi kita jelas," tegasnya, "menjadikannya (pendidikan kesetaraan) semakin relevan dengan zaman, produktif melahirkan karya, dan menggembirakan bagi setiap insan pembelajar."
Tiga pilar (relevan, produktif, menggembirakan) ini menjadi landasan Astina untuk mendorong para tutor agar tidak hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi dan menghasilkan dampak nyata.
Kekuatan Akar Rumput sebagai Kunci
Poin terkuat dalam sambutan Lilik adalah filosofi kolaborasi Astina. Ia meyakini bahwa kebijakan yang dirancang pemerintah tidak akan berjalan maksimal tanpa inisiatif dari para pelaksana di lapangan.
"Kami di Astina percaya, kebijakan yang hebat dari pemerintah akan menjadi kekuatan raksasa saat bertemu dengan gairah dan prakarsa dari akar rumput di PKBM dan SKB," tandasnya.
Baginya, para tutor di PKBM dan SKB bukanlah objek, melainkan subjek utama perubahan. Gairah dan inisiatif merekalah yang akan mengubah kebijakan di atas kertas menjadi sebuah "kekuatan raksasa".
Membuka Pintu Kolaborasi Selebar-lebarnya
Atas dasar keyakinan tersebut, Lilik secara terbuka mengundang semua pemangku kepentingan untuk bergerak bersama. Ia menegaskan bahwa Astina memposisikan diri sebagai jembatan penghubung.
"Karena itu kami membuka pintu kolaborasi selebar-lebarnya. Mari pemerintah pusat dan daerah, lembaga penjaminan mutu, dan seluruh komunitas praktisi, kita berdiri bersama, bergerak bersama, menyalakan obor perubahan ini," ajaknya.
Sambutan ini ditutup dengan gelora moto Astina, "Tutor bangkit memperkokoh Indonesia!", yang ia pimpin berulang kali. Pidato Lilik Subaryanto berhasil menetapkan nada konferensi: penuh energi, kolaboratif, dan fokus pada pemberdayaan tutor sebagai agen perubahan utama di garda terdepan. (Panitia)
