SEMARANG, ASTINA – Citra seorang tutor yang hanya datang ke kelas untuk menyampaikan materi pelajaran kini resmi usang. Dalam "Astina Learning & Entrepreneurship Conference 2025", terungkap bahwa tutor pendidikan kesetaraan modern dituntut menjadi profesional multi-talenta yang menguasai setidaknya tiga keterampilan inti: literasi AI, inovasi pedagogi, dan jiwa wirausaha.Konferensi yang digelar Asosiasi Tutor Pendidikan Kesetaraan Nasional (Astina) di Semarang ini mengusung tema "Transformasi pendidikan kesetaraan di era AI dan tutor mandiri". Tema ini menggarisbawahi pergeseran peran tutor dari sekadar pengajar menjadi fasilitator kemandirian.
"Misi kita jelas: menjadikan (pendidikan kesetaraan) semakin relevan dengan zaman, produktif melahirkan karya, dan menggembirakan," seru Ketua Umum DPP Astina, Lilik Subaryanto, dalam sambutannya.
Berikut adalah tiga keterampilan utama yang menjadi fokus dalam konferensi tersebut:
1. Keterampilan Literasi AI (Kecerdasan Buatan)
Keterampilan yang paling ditonjolkan adalah kemampuan untuk "menjinakkan" Kecerdasan Buatan (AI). AI tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai asisten pribadi tutor.
Dalam sesi lokakarya, para tutor tidak hanya diajari teori, tetapi dipaksa praktik langsung. Mereka dilatih menggunakan AI untuk mengotomatisasi "pekerjaan yang berulang", membebaskan waktu mereka untuk fokus pada siswa. Contoh praktisnya, Eko Pranyono mendemonstrasikan bagaimana AI dapat menyusun satu set Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan soal asesmen TKA (Tes Kemampuan Akademik) untuk satu tahun penuh hanya dalam hitungan jam.
"Kita bebaskan beban administratif menjadi desain pembelajaran yang bermakna," ujar Eko.
2. Keterampilan Inovasi Pedagogi
Menguasai AI saja tidak cukup. Keterampilan kedua adalah kemampuan pedagogi untuk merancang pembelajaran yang mendalam (deep learning). AI hanyalah alat; tutor adalah perancangnya.
Eko Pranyono menekankan bahwa RPP yang dibuat harus berprinsip "memuliakan dan menggembirakan", bukan sekadar mengejar target kurikulum. Keterampilan tutor yang baru adalah beralih dari asesmen yang menguji hafalan materi menjadi asesmen yang "menguji kerangka berpikir". Tutor didorong untuk menciptakan "ide-ide segar" agar siswa mampu mengaplikasikan dan merefleksikan pengetahuan dalam konteks lokal mereka, seperti yang dicontohkan untuk wilayah Bengkulu dan Cirebon dalam lokakarya.
3. Keterampilan Wirausaha (Entrepreneurship)
Sesuai dengan nama konferensinya, "Learning & Entrepreneurship", keterampilan ketiga yang wajib dimiliki adalah jiwa wirausaha. Tema "tutor mandiri" dan "kemandirian ekonomi" menjadi benang merah.
Tutor tidak hanya diharapkan mencetak lulusan yang siap kerja, tetapi juga mampu menjadi teladan dalam kemandirian ekonomi. Puncak dari penekanan keterampilan ini terbukti dari salah satu agenda lokakarya yang diumumkan: pelatihan barista profesional yang bersertifikat dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Ini adalah sinyal jelas bahwa seorang tutor kesetaraan kini juga perlu memiliki keterampilan vokasional praktis yang bernilai jual.
Konferensi Astina 2025 ini secara gamblang memetakan profil tutor masa depan: seorang profesional yang adaptif secara teknologi, kreatif secara pedagogi, dan mandiri secara ekonomi. (Panitia)
