Jumat siang, 31 Oktober 2025, suasana lobi Hotel Novotel Semarang terasa berbeda dari biasanya. Lobi yang megah itu dipenuhi oleh 100 wajah penuh semangat yang datang dari berbagai penjuru Indonesia. Mereka adalah para tutor pendidikan kesetaraan, pamong belajar, dan penilik, yang merupakan jantung penggerak dari ekosistem pendidikan nonformal (PNF) di negeri ini. Mereka berkumpul, melakukan registrasi antara pukul 14.00 hingga 16.00, mengantre dengan tertib. Inilah hari pertama dari "ASTINA Learning and Entrepreneurship Conference 2025", sebuah hajatan tahunan bergengsi yang digelar oleh Dewan Pengurus Pusat ASTINA. Seperti yang diungkapkan oleh Ketua Umum DPP ASTINA, Lilik Subaryanto, ini adalah momen penting yang telah lama dinanti untuk "memperkuat tali silaturahmi" setelah sekian lama berjuang di daerah masing-masing. Namun, ini bukan sekadar reuni biasa. Selama tiga hari ke depan, 100 peserta ini akan digembleng dengan dua isu paling krusial di dunia pendidikan saat ini: Kecerdasan Buatan (AI) dan Kewirausahaan. Saat registrasi, mereka menerima paket conference kit berisi goody bag, tumbler, dan batik ASTINA yang akan menjadi seragam kebanggaan mereka.
Setelah pembukaan resmi pada pukul 16.00, agenda langsung beralih ke sesi workshop "Pemanfaatan AI dalam Peningkatan Proses Pembelajaran Kesetaraan Lebih Menggembirakan". Sesi petang hingga malam hari ini, yang hanya diselingi istirahat makan malam, menjadi penanda keseriusan ASTINA dalam menjawab tantangan zaman. Secara daring, Dr. Baharuddin, Direktur Pendidikan Nonformal dan Informal Kemdikdasmen, memberikan sambutan kunci yang sarat makna. Ia mengingatkan bahwa ASTINA memiliki amanah khusus dari direktorat untuk menyukseskan program Digitalisasi Pembelajaran. Tujuannya sangat jelas dan mulia: memanfaatkan teknologi untuk menuntaskan masalah klasik Anak Tidak Sekolah (ATS). Para peserta, yang diwajibkan membawa laptop, dengan saksama menyimak. Mengenakan batik ASTINA yang seragam, mereka langsung mempraktikkan penyusunan RPP berbasis AI. Hari pertama yang padat dan penuh wawasan teknologi itu ditutup pada pukul 21.30.
Keesokan harinya, Sabtu, 1 November 2025, agenda dan suasana berubah. Jika hari pertama adalah tentang kapasitas teknis, hari kedua adalah tentang kapasitas ekonomi dan inspirasi. Pagi hari, mulai pukul 08.00, diisi dengan Seminar Nasional Kewirausahaan. Para peserta kini mengenakan pakaian "Batik/Kemeja Bebas", menciptakan suasana yang lebih santai namun tetap serius. Dr. M. Dzaky F. Surapranata dari Direktorat Guru PAUD dan PNF Kemendikdasmen, hadir secara virtual untuk mendorong para pendidik ini agar berani menjadi wirausahawan. "Masuk ke sektor UMKM, berinovasi, dan berkreasi," begitu gagasan utamanya, agar satuan PNF bisa mandiri dan lebih berdaya. Pidato Lilik Subaryanto juga membakar semangat dengan moto "Tutor Bangkit Memperkokoh Indonesia". Seminar ini tidak monoton, diisi tiga sesi materi yang mencakup arah kebijakan, peluang usaha ekonomi kreatif, dan kisah sukses tutor yang membangun usaha dari nol, sebelum ditutup dengan diskusi interaktif.
Setelah otak "dipanaskan" di pagi hari, siang harinya adalah waktu untuk "pendinginan" dan membangun jejaring. Mulai pukul 14.00, seluruh peserta mengikuti "Wisata Tour Edukasi". Dengan dress code yang lebih kasual, yakni "Kaos ASTINA" atau "Rompi ASTINA" serta mengenakan topi, rombongan 100 peserta ini mengunjungi ikon-ikon Semarang seperti Lawang Sewu dan Kota Tua, serta berburu oleh-oleh. Ini adalah momen di mana silaturahmi yang disebut Lilik benar-benar terjalin cair. Malam harinya, kembali di hotel, acara dilanjutkan dengan "Malam Keakraban dan Apresiasi Tutor Inspiratif", sebuah malam gala yang penuh kehangatan, tawa, dan penghargaan bagi para tutor yang dianggap inspiratif. Ramdani, Ketua DPD ASTINA Gowa, yang membawa 13 orang dari Sulawesi Selatan, merasakan betul manfaat ganda ini. "Kami tidak hanya dapat ilmu, tapi juga jaringan dan inspirasi wirausaha untuk kami imbaskan di Gowa," ujarnya.
Konferensi akhirnya mencapai puncaknya pada hari Minggu, 2 November 2025. Pagi hari diisi dengan sesi yang paling krusial: "Diskusi dan Penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL)". Ini adalah sesi "so what?" di mana semua ilmu dan inspirasi selama dua hari diramu menjadi rencana aksi yang konkret. Para peserta, termasuk rombongan dari Gowa, berdiskusi serius merumuskan langkah-langkah untuk mengimbaskan pengetahuan AI dan kewirausahaan di daerah masing-masing. Sesi penutupan digelar pukul 10.00. Di sinilah 10 peserta terbaik diumumkan dan menerima hadiah batik ASTINA sebagai apresiasi atas partisipasi aktif mereka. Momen penting lainnya adalah penyerahan bukti dokumen pertanggungjawaban keuangan (SPJ) oleh panitia kepada peserta, sebuah bentuk profesionalisme dan akuntabilitas yang sangat diapresiasi. Tepat pukul 11.00, para peserta melakukan check-out dan mengucapkan "Sayonara". Mereka meninggalkan Semarang, membawa pulang semangat baru: menjadi tutor yang tidak hanya pandai mengajar, tetapi juga melek AI dan mandiri secara ekonomi.
- Astatik Bestari
