• Jelajahi

    Copyright © DPP ASTINA - Indonesia
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Dari Ruang Pelatihan di Samarinda Menuju Pembelajaran Masa Depan

    ASTINA
    19/05/2026, 05:50 WIB Last Updated 2026-05-18T22:51:03Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    Tutor Kesetaraan Menyambut Era AI: Dari Ruang Pelatihan di Samarinda Menuju Pembelajaran Masa Depan

    Suasana lobi hotel di Samarinda pagi itu terasa berbeda. Beberapa tutor tampak sibuk membuka laptop, sebagian lain berdiskusi kecil sambil memperlihatkan layar ponsel mereka. Kata yang paling sering terdengar selama tiga hari kegiatan itu hanya satu: AI.

    Bagi sebagian orang, Artificial Intelligence mungkin masih terdengar seperti teknologi yang rumit dan jauh dari dunia pendidikan nonformal. Namun bagi para tutor pendidikan kesetaraan yang berkumpul di Samarinda pertengahan Mei 2026 lalu, AI justru mulai dipandang sebagai alat bantu baru untuk menjawab tantangan belajar masyarakat yang terus berubah.

    Di tengah derasnya transformasi digital, Dewan Pengurus Wilayah ASTINA Kalimantan Timur menginisiasi sebuah bimbingan teknis pemanfaatan AI bagi tutor pendidikan kesetaraan. Kegiatan tersebut mempertemukan puluhan pendidik dari berbagai daerah, mulai dari Kalimantan Timur hingga luar provinsi seperti Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan.

    Selama pelatihan berlangsung, para peserta tidak hanya mendengarkan teori tentang kecerdasan buatan. Mereka juga mencoba langsung bagaimana teknologi tersebut dapat membantu menyusun bahan ajar, membuat evaluasi pembelajaran, hingga menyederhanakan pekerjaan administrasi yang selama ini cukup menyita waktu tutor.

    Banyak peserta mengaku awalnya merasa asing dengan perkembangan AI. Namun setelah mencoba berbagai aplikasi dan simulasi pembelajaran, muncul kesadaran baru bahwa teknologi bukan sesuatu yang harus ditakuti.

    “Selama ini kami berpikir AI hanya untuk orang teknologi. Ternyata tutor juga bisa memanfaatkannya untuk membuat pembelajaran lebih menarik,” ungkap salah satu peserta saat sesi diskusi berlangsung.

    Ketua DPW ASTINA Kalimantan Timur, Agus Suprianto, menilai pendidikan kesetaraan tidak boleh tertinggal dalam perkembangan zaman. Menurutnya, warga belajar di PKBM maupun SKB juga berhak mendapatkan pengalaman belajar yang relevan dengan dunia modern.

    Ia menekankan bahwa tutor saat ini tidak cukup hanya menguasai materi pembelajaran, tetapi juga perlu memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi. Dengan begitu, proses belajar dapat menjadi lebih efektif, kreatif, dan dekat dengan kehidupan peserta didik.

    Semangat serupa juga disampaikan oleh Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan Kalimantan Timur, Wiwik Setiawati, yang membuka kegiatan tersebut. Dalam arahannya, ia mengingatkan bahwa perkembangan AI harus diimbangi dengan tanggung jawab moral dan etika pendidikan.

    Menurutnya, teknologi dapat menjadi alat yang sangat membantu jika digunakan secara bijak. Namun peran manusia sebagai pendidik tetap tidak tergantikan, terutama dalam membangun karakter, empati, dan nilai-nilai kehidupan kepada peserta didik.

    Sementara itu, Ketua Umum DPP ASTINA, Lilik Subaryanto, mengajak para tutor melihat AI sebagai “mitra kerja” yang dapat meningkatkan produktivitas pembelajaran. Ia menegaskan bahwa kehadiran teknologi bukan untuk menggeser posisi guru, melainkan membantu tutor bekerja lebih efisien.

    Di sela kegiatan pelatihan, peserta juga diajak mengunjungi kawasan Ibu Kota Nusantara. Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi tersendiri bagi banyak peserta: Indonesia sedang bergerak menuju masa depan baru, dan dunia pendidikan harus ikut melangkah ke arah yang sama.

    Perjalanan menuju Nusantara bukan sekadar wisata edukasi. Bagi sebagian tutor, kunjungan itu menjadi simbol perubahan zaman—bahwa pendidikan kesetaraan pun memiliki tempat dalam pembangunan Indonesia masa depan.

    Menjelang penutupan kegiatan, suasana pelatihan terasa lebih cair. Tutor-tutor yang sebelumnya canggung menggunakan teknologi mulai saling berbagi hasil praktik mereka. Ada yang mencoba membuat bahan presentasi berbasis AI, ada pula yang mulai merancang media belajar digital sederhana untuk warga belajar di daerah masing-masing.

    Ketua panitia pelaksana, Septian Aristya, berharap semangat belajar tersebut tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Menurutnya, tantangan pendidikan modern menuntut tutor untuk terus berkembang dan terbuka terhadap inovasi.

    Di tengah berbagai keterbatasan yang kerap dihadapi pendidikan nonformal, langkah kecil dari Samarinda itu menjadi tanda bahwa perubahan sedang bergerak. Bukan dengan menggantikan peran manusia, melainkan memperkuat kemampuan para pendidik agar tetap relevan di era digital.

    Dan mungkin, dari ruang pelatihan sederhana itulah masa depan pendidikan kesetaraan mulai dibentuk—pelan, adaptif, dan tetap manusiawi. (Agus Supriyanto)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler