• Jelajahi

    Copyright © DPP ASTINA - Indonesia
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Bukan Cuma Mengajar: 5 Resep Bisnis 'Zero Waste' dari Mbak Ana yang Wajib Ditiru Setiap Lembaga Pendidikan

    DPP ASTINA
    03/11/2025, 08:12 WIB Last Updated 2025-11-07T02:20:23Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

    Dari Rp 25 Juta Hibah Paket B, PKBM Wonosobo Ini Sukses Ubah Buah Lokal Jadi Bisnis Tembus Pasar Haji

    SEMARANG, ASTINA – Sebuah kisah wirausaha yang mengguncang hadir dari panggung Astina Learning & Entrepreneurship Conference. Di saat banyak lembaga pendidikan nonformal (PNF) berjuang untuk mandiri, Mbak Ana dari PKBM Cemerlang, Wonosobo, membuktikan bahwa unit usaha lembaga bisa menjadi raksasa bisnis, bermodalkan potensi lokal dan mentalitas "nol limbah".

    ​Dalam sesi yang memukau peserta, Mbak Ana menceritakan bagaimana ia mengubah buah Carica—buah endemik Dataran Tinggi Dieng yang sering tak bernilai jual—menjadi pundi-pundi rupiah yang menghidupi lembaganya.

    ​"Semua ini berawal dari program pemerintah, Paket B Berbasis Keterampilan di tahun 2012. Modalnya hanya Rp 25 juta," ungkapnya.

    ​Alih-alih berhenti setelah program selesai, PKBM Cemerlang mengubah dana hibah itu menjadi ternak uang. Kuncinya, menurut Mbak Ana, adalah memanfaatkan bahan baku yang sudah tersedia berlimpah di lingkungannya.

    ​"Jangan membuat yang aneh-aneh. Lihat di lingkungan Bapak Ibu yang banyak apa," tegasnya.


    Yang membuat strategi PKBM Cemerlang unik adalah filosofi zero waste atau tanpa limbah. Mbak Ana menjelaskan, tidak ada satu bagian pun dari buah Carica yang terbuang.

    ​"Buahnya kami buat minuman. Kulitnya? Kami buat pakan ikan lele. Bijinya? Kami buat sabun," paparnya.

    ​Inovasi ini bukan main-main. Pakan lele dari kulit Carica menekan biaya operasional kolam ikan mereka, membuat lele "besar sendiri tanpa modal" pakan pabrikan.

    ​Namun, inovasi paling brilian datang dari biji Carica. Berdasarkan pengalaman pribadi saat ibadah haji yang kesulitan mencari sabun non-parfum, Mbak Ana mengubah biji Carica menjadi sabun batangan three-in-one (muka, rambut, badan).

    ​"Sabun ini tanpa parfum, tanpa alkohol. Kami tawarkan ke Kemenag untuk jemaah haji, dan sekarang kami jual curah ke hotel-hotel di Arab," jelasnya, memicu decak kagum peserta.

    ​Mbak Ana juga menceritakan perjuangannya mempertahankan identitas. Saat bermitra dengan ritel besar seperti Indomaret, ia "eyel-eyelan" (berdebat) untuk tetap mencantumkan nama "Produksi PKBM Cemerlang" di label, bukan CV atau PT.

    ​"Saya saking cintanya dengan PKBM, tidak mau diganti nama!" tegasnya.

    ​Perjuangan itu membuahkan hasil. Kini, PKBM Cemerlang mampu membayar tutornya di atas UMK (Upah Minimum Kabupaten) dan membuktikan bahwa lembaga pendidikan kesetaraan bisa mandiri secara finansial.

    Tutorial: 5 Resep Sukses Wirausaha ala Mbak Ana PKBM Cemerlang

    ​Berdasarkan paparan inspiratifnya, Mbak Ana secara tidak langsung membagikan resep sukses bagi para "Tutorpreneur" yang ingin membangun unit usaha di lembaga PNF. Berikut adalah tutorial mendetailnya:

    ​1. Mulai dari Halaman Sendiri: Identifikasi Potensi Lokal

    ​Jangan memulai usaha dengan bahan baku yang sulit dicari atau mahal. Mbak Ana menekankan untuk melihat apa yang berlimpah di sekitar Anda.

    • Contoh: PKBM Cemerlang di Wonosobo dikelilingi kebun Carica. PKBM Butus Liha dikelilingi kebun kopi. Jika Anda di daerah pantai, olah ikan. Jika di daerah pertanian, olah singkong.
    • Keuntungan: Meminimalisir biaya produksi, meminimalisir risiko kelangkaan bahan baku, dan mempermudah kontrol kualitas.

    ​2. Terapkan Filosofi 'Zero Waste': Setiap Limbah adalah Cuan

    ​Jangan membuang sisa produksi. Dalam bisnis, limbah adalah potensi keuntungan yang tertunda.

    • Studi Kasus Carica:
      • Daging Buah: Diolah menjadi produk utama (minuman Carica).
      • Kulit: Diolah menjadi produk pendukung (pakan lele), yang menekan biaya operasional di unit usaha lain (perikanan).
      • Biji: Diolah menjadi produk baru bernilai jual tinggi (sabun Ihram), yang membuka ceruk pasar baru (jemaah haji, Timur Tengah).

    ​3. 'Cari Kepalanya': Fokus pada Penjualan B2B (Partai Besar)

    ​Sebagai pengelola lembaga, waktu Anda terbatas. Hindari menghabiskan waktu melayani penjualan eceran (satu per satu).

    • Strategi: "Cari kepalanya," kata Mbak Ana.
    • Artinya: Targetkan penjualan Business-to-Business (B2B). Satu kontrak dengan Indomaret, satu kemitraan dengan Angkasa Pura, atau satu kesepakatan dengan Kemenag jauh lebih efisien dan menghasilkan omzet besar daripada melayani ratusan pembeli perorangan.

    ​4. Berani Jaga Identitas: Legalitas atas Nama Lembaga

    ​Ini adalah poin krusial. Banyak yang tergoda membuat PT atau CV pribadi begitu usahanya besar. Mbak Ana menolak keras hal ini.

    • Tindakan: Urus semua legalitas (BPOM, HAKI, ISO) atas nama PKBM Anda.
    • Mengapa Penting: Ini membuktikan bahwa lembaga PNF adalah entitas bisnis yang profesional dan sah. Ini membangun kebanggaan lembaga dan memastikan bahwa keuntungan usaha kembali untuk menyejahterakan ekosistem pendidikan di lembaga tersebut (misal: menggaji tutor UMK).

    ​5. Bangun Sistem Kemitraan yang Cerdas (Bukan Gaji)

    ​Saat berekspansi, jangan terjebak pada sistem gaji tradisional yang membebani operasional.

    • Studi Kasus: Saat bermitra dengan Angkasa Pura untuk membuka gerai di bandara, PKBM Cemerlang tidak menggaji SPG (pramuniaga) yang menjaga gerai.
    • Sistemnya: Mereka menggunakan profit sharing atau persentase. "Satu pack kamu dapat Rp 10.000," jelas Mbak Ana.
    • Hasilnya: SPG termotivasi menjual sebanyak mungkin karena pendapatan mereka linier dengan usaha. "Adil... lomba-lomba pengin banyak," katanya. Ini adalah sistem yang minim risiko bagi PKBM namun tinggi motivasi bagi mitra. (Panitia) 
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler