• Jelajahi

    Copyright © DPP ASTINA - Indonesia
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Membawa Pulang 'Virus' AI dan Wirausaha: Investasi Rp 2,5 Juta Ratusan Tutor di Konferensi ASTINA

    DPP ASTINA
    03/11/2025, 08:42 WIB Last Updated 2025-11-03T01:42:50Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

    Ramdani tidak datang sendiri. Ketua DPD Asosiasi Tutor Pendidikan Kesetaraan Nasional (ASTINA) Kabupaten Gowa itu memimpin rombongan. Ia memboyong 12 rekannya, menempuh jarak ratusan kilometer, terbang dari Sulawesi Selatan menuju Semarang, Jawa Tengah. Mereka adalah bagian kecil namun representatif dari 100 wajah penuh semangat yang terdiri dari para tutor, pamong belajar, dan penilik dari seluruh penjuru Indonesia. Mereka berkumpul dan memadati lobi Hotel Novotel Semarang pada hari terakhir bulan Oktober 2025. Kedatangan mereka bukanlah untuk sekadar berwisata, melainkan untuk sebuah "investasi" penting yang mereka yakini akan membawa perubahan: meng-upgrade diri, memperluas wawasan, dan menempa keterampilan baru dalam ajang "ASTINA Learning and Entrepreneurship Conference 2025".

    Bagi para pejuang pendidikan yang mendedikasikan hidupnya di garda nonformal ini, partisipasi mereka menuntut sebuah komitmen. Setiap peserta, termasuk Ramdani dan ketiga belas rekannya dari Gowa, menginvestasikan Rp. 2.500.000. Ini bukanlah angka yang sedikit. Namun, bagi mereka, ini adalah harga yang pantas dan perlu dibayar untuk sebuah transformasi profesional dan kelembagaan. "Manfaat mengikuti kegiatan ini, kita bisa mengimbaskan ke PKBM yang ada di Sulawesi Selatan, khususnya di Gowa," ujar Ramdani dengan nada optimis. Ia tampak antusias saat menjelaskan visinya. "Kami berharap, dengan 13 orang yang hadir ini, Astina Learning and Entrepreneurship Conference 2025 bisa menjadi model pemberdayaan terbaru bagi PKBM-PKBM di sana dan, yang tidak kalah penting, dapat membentuk jiwa wirausaha sejak dini," imbuhnya.

    Harapan besar Ramdani itu seakan merangkum esensi dan jiwa dari konferensi yang digelar oleh DPP ASTINA ini. Ketua Umum DPP ASTINA, Lilik Subaryanto, dalam sambutannya, mengamini bahwa acara ini dirancang dengan hati dan memiliki makna lebih dari sekadar agenda rutin tahunan. "Ini adalah kegiatan luring yang kita selenggarakan sebagai pertemuan tahunan untuk memperkuat tali silaturahmi. Ini sangat penting," kata Lilik. "Tapi yang terpenting, dalam silaturahmi ini, para tutor dapat memperoleh wawasan, pengetahuan, serta keterampilan baru terkait hal-hal ter-update di pendidikan kesetaraan." Menurut Lilik, kegiatan ini adalah sebuah "tolak ukur" atau barometer yang jujur untuk mengukur sejauh mana upaya dan keseriusan para pegiat PNF di lapangan dalam berjuang meningkatkan kualitas kompetensi mereka. Dengan mengusung moto "Tutor Bangkit Memperkokoh Indonesia", para tutor ini didorong secara kolektif untuk naik kelas, menjadi lebih profesional, lebih melek teknologi, dan lebih mandiri.

    Lantas, keterampilan baru apa yang mereka kejar hingga rela menempuh jarak dan biaya? Konferensi ini dirancang dengan cerdas untuk berdiri di atas dua pilar utama yang saling melengkapi. Pilar pertama adalah teknologi. Pada hari Jumat, 31 Oktober 2025, para tutor "dipaksa" untuk berkenalan akrab dengan Artificial Intelligence (AI). Melalui workshop bertajuk "Pemanfaatan AI dalam Peningkatan Proses Pembelajaran Kesetaraan Lebih Menggembirakan," mereka tidak hanya diberi teori, tetapi juga praktik langsung. Mereka wajib membawa laptop dan langsung mencoba menyusun RPP yang diintegrasikan dengan AI. Dr. Baharuddin, Direktur Pendidikan Nonformal dan Informal Kemdikdasmen, yang hadir secara daring, menegaskan bahwa keterampilan ini krusial untuk menuntaskan masalah Anak Tidak Sekolah (ATS). Pilar kedua adalah ekonomi. Pada hari Sabtu, 1 November 2025, fokus beralih ke Seminar Nasional Kewirausahaan. Para tutor didorong untuk tidak hanya menjadi pendidik ulung, tetapi juga wirausahawan yang tangguh. Dr. M. Dzaky F. Surapranata dari Direktorat Guru PAUD dan PNF Kemendikdasmen, memberi gagasan konkret agar para pegiat PNF mulai merambah sektor UMKM. Tujuannya mulia: menciptakan kemandirian bagi pendidik dan satuan pendidikan nonformal agar lebih berdaya dan tidak terus-menerus bergantung pada bantuan.

    Investasi jutaan rupiah itu pun dikelola secara profesional oleh panitia. Selain akomodasi premium selama 3 hari 2 malam di hotel bintang empat, konsumsi yang terjamin, dan materi workshop yang padat, peserta juga mendapatkan souvenir kenang-kenangan yang berharga, seperti batik ASTINA, tumbler eksklusif, dan goody bag. Lebih penting lagi bagi institusi mereka, panitia telah menyiapkan dokumen pertanggungjawaban (SPJ) keuangan yang lengkap dan rapi. Hal ini memastikan bahwa dana yang dikeluarkan oleh satuan pendidikan nonformal untuk mendelegasikan tutornya dapat dipertanggungjawabkan dengan baik dan akuntabel. Pada akhir acara, Minggu, 2 November 2025, bukan hanya sertifikat yang mereka genggam erat. Ada Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang telah mereka susun bersama, yang harus mereka implementasikan di daerah masing-masing. Sebagai bentuk motivasi tambahan, panitia juga memberikan apresiasi kepada 10 peserta terbaik, yang masing-masing menerima hadiah batik ASTINA. Mereka inilah, bersama 90 peserta lainnya, yang kini mengemban tugas mulia sebagai agen-agen perubahan, membawa pulang "virus" positif AI dan kewirausahaan ke PKBM-PKBM mereka di seluruh penjuru negeri, dari Gowa hingga ke pelosok-pelosok lainnya. (Astatik Bestari) 

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler