Menjadi 'Tutorpreneur': Panggilan Kewirausahaan Kang Dzaky untuk Pendidik Kesetaraan
Semarang, Astina
- Suasana di ruang lokakarya Astina Learning & Entrepreneurship Conference pagi itu terasa hangat. Para tutor pendidikan kesetaraan dari berbagai penjuru negeri berkumpul di Semarang, membawa serta realitas tantangan di lapangan. Di tengah diskusi tentang kurikulum dan kemandirian, satu sesi menyorot tajam ke jantung persoalan: bagaimana tutor bisa sejahtera dan lembaga PNF (Pendidikan Nonformal) bisa mandiri?
Jawabannya datang dari Kang Dzaky, sapaan akrab dari Dr. M. Dzaky F Surapranata, S.E., M.Comm. , perwakilan dari Direktorat Jenderal GTK. Sesi bertajuk "Membidik Peluang Usaha di Sektor Ekonomi Kreatif bagi Pendidik Kesetaraan" bukan sekadar paparan, melainkan sebuah ajakan strategis untuk mengubah pola pikir.
Dari Pengajar Menjadi Penggerak Ekraf
Kang Dzaky membuka sesinya dengan realitas mendasar: pentingnya data tutor yang valid sebagai fondasi kebijakan. Namun, ia segera beralih ke visi yang lebih besar. Menurutnya, di era ini, PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) dan SKB (Sanggar Kegiatan Belajar) tidak bisa lagi hanya mengandalkan dana bantuan operasional.
"Pendidikan kesetaraan bukan hanya pengajar, tapi juga penggerak ekonomi masyarakat," tegas Kang Dzaky.
Ia memperkenalkan konsep "Tutorpreneur"—seorang tutor yang juga seorang wirausahawan. Solusinya terletak pada Ekonomi Kreatif (Ekraf), sebuah sektor yang ia definisikan sebagai "potensi pendapatan dari kegiatan dan ide kreatif" yang menggabungkan seni, budaya, bisnis, dan teknologi.
Bagi Kang Dzaky, lembaga PNF adalah inkubator ideal untuk unit-unit usaha kecil. Ia mendorong peserta untuk segera membuka unit usaha di PKBM atau SKB mereka. Peluangnya, kata dia, ada di sekitar kita.
"Misalnya di depan PKBM-nya ada kuliner, apakah cilok lah, ataupun siomai," ujarnya, memicu senyum peserta.
Ia memberi contoh yang lebih spesifik, seperti memanfaatkan hype kopi dengan membuka unit barista, usaha desain dan printing, hingga yang paling relevan dengan dunia pendidikan: membuat konten edukasi digital.
"Konten edukasi digital dari YouTube, podcast, e-learning... ini kayaknya podcast juga bisa menjadi program unggulan," tantangnya.
Kuncinya, menurut Kang Dzaky, adalah mengidentifikasi potensi lokal. "Setiap di Indonesia ini... pasti ada pisang," katanya memberi ide. "Bisa jadi kita harus bikin Pisang Astina nih, menjadi keunggulan kita untuk ekonomi kreatifnya."
Diskusi Hangat: Dari 'Kantong Bantuan' hingga Paradoks P3K
Paparan strategis tersebut segera memantik diskusi kritis dari para praktisi di lapangan.
1. Mencari 'Kantong Bantuan' Baru
Pertanyaan praktis pertama datang dari Ibu Ramda, peserta dari Gowa, Sulawesi Selatan.
"Kami mohon kiranya kami di sini diberikan petunjuk untuk menjemput kantong-kantong bantuan di tempat lain," tanyanya, merujuk pada sumber dana di luar Kementerian Pendidikan (Dikdasmen) yang selama ini menjadi sandaran utama.
Kang Dzaky menjawab lugas. Ia menyarankan para tutor untuk aktif "menjaring networking" dan mencari peluang di kementerian lain seperti Kementerian Desa atau Kementerian Kewirausahaan. Tak hanya itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi dengan Pemda, BLK (Balai Latihan Kerja), dan proaktif mendekati program CSR (Corporate Social Responsibility) dari perusahaan swasta besar.
"Kita ada pelatihan... dengan Jarum Foundation... Astra punya, Askrindo punya," jelasnya. "Kunci dalam kewirausahaan bukan hanya dari modal, tapi kuncinya kita ada niat, nawaitu, sama networking."
2. Paradoks P3K: PKBM Kehilangan SDM Terbaik
Diskusi menjadi semakin krusial ketika fenomena P3K (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) diangkat. Seorang peserta menyoroti masalah pelik: banyak tutor PKBM yang berprestasi lolos seleksi P3K, namun ironisnya, mereka justru "pergi" karena ditempatkan di sekolah-sekolah formal negeri.
"Akhirnya banyak PKBM itu kehilangan SDM yang bagusnya," keluh peserta tersebut. "Apakah bisa ke depannya tutor-tutor dari P3K itu tetap mengabdi di PKBM?"
Menanggapi hal ini, Kang Dzaky memberikan jawaban yang jujur dan realistis. Ia menjelaskan bahwa prioritas negara saat ini adalah mengisi formasi di sekolah negeri terlebih dahulu.
"Bapak Ibu, kita harus memikirkan negara. Negara hadir harus pertamanya di sekolah negeri dulu," paparnya. Ia mengakui bahwa P3K yang ditempatkan di lembaga swasta seperti PKBM "kayaknya agak berat."
"Bahkan setahu saya, sekolah swasta saja (guru formal swasta yang lolos P3K) sekarang mau ditertibkan" untuk dipindahkan ke negeri. Menurutnya, solusi bagi PKBM atas fenomena ini adalah fokus pada regenerasi.
Sesi pagi itu ditutup bukan dengan jawaban yang membuai, melainkan dengan peta realitas yang jelas. Kang Dzaky berhasil menyuntikkan semangat baru bahwa untuk mandiri, tutor dan lembaga PNF tidak bisa pasif menunggu. Mereka harus kreatif, proaktif menjalin jejaring, dan berani menjadi 'Tutorpreneur'.
Seperti pantun yang ia sampaikan, "Astina Conference jadi pintu, menuju generasi kreatif dan berdaya saing tinggi." (Panitia)
