masukkan script iklan disini
📊 Rapor Merah TKA, “Teori Hitung Nasi”, dan Krisis Wibawa Guru
Dunia pendidikan kembali menjadi sorotan. Dua isu mencuat hampir bersamaan, namun terasa bertolak belakang dan memantik banyak pertanyaan di kalangan guru.
đź”» Fakta Pertama:
Hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) Matematika tingkat nasional (SMP/SMA) menunjukkan angka yang cukup memprihatinkan—rata-rata hanya 36 dari 100.
đź”» Fakta Kedua:
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, dalam tayangan Kompas TV, menyampaikan gagasan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa menjadi sarana pembelajaran.
Salah satu contohnya: membiasakan anak berhitung sederhana seperti “berapa butir nasi di piringmu?” saat makan.
đź’ Terdengar menarik secara teori, tetapi bagaimana realitasnya di lapangan?
⚠️ Realita di Kelas
Banyak guru menghadapi fakta yang jauh dari ideal:
PR yang jelas-jelas wajib sering tidak dikerjakan oleh sebagian besar siswa
Materi yang diajarkan di sekolah tidak diulang di rumah
Minimnya keterlibatan orang tua dalam proses belajar anak
Dalam kondisi seperti ini, harapan bahwa siswa akan belajar mandiri saat makan siang terasa sulit terwujud.
⚖️ Dilema Guru Saat Ini
Guru berada pada posisi yang tidak mudah:
Dituntut meningkatkan hasil belajar siswa
Namun ruang untuk menegakkan disiplin semakin terbatas
Ketegasan sering disalahartikan sebagai pelanggaran
Risiko dilaporkan, diviralkan, hingga berurusan dengan hukum menjadi bayang-bayang nyata
Akibatnya, wibawa guru perlahan terkikis, dan proses pendidikan kehilangan salah satu pilar pentingnya: ketegasan yang mendidik.
🔍 Akar Permasalahan
Rendahnya capaian TKA bukan sekadar soal metode belajar yang kurang kreatif. Ada persoalan yang lebih mendasar:
Lemahnya ekosistem belajar di rumah
Minimnya peran aktif orang tua
Terbatasnya kewenangan guru dalam mendisiplinkan siswa
🌱 Lalu, Apa Solusinya?
Program MBG tentu memiliki peran penting—terutama dalam mengatasi masalah gizi dan stunting. Namun, untuk meningkatkan kemampuan akademik, diperlukan pendekatan yang lebih menyeluruh:
✔️ Menguatkan peran orang tua dalam pendidikan anak
✔️ Membangun kembali budaya belajar di rumah
✔️ Memberikan perlindungan dan kepercayaan kepada guru
✔️ Mengembalikan marwah dan wibawa guru sebagai pendidik
đź’¬ Penutup
Pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga keluarga dan lingkungan. Tanpa kolaborasi yang kuat, sulit berharap hasil yang maksimal.
👉 Bagaimana pendapat Anda? Apakah masalah utama ada pada sistem, keluarga, atau posisi guru saat ini?
- Sunandika Al Kandisy
