29 Lembaga SPNF Terpilih Mulai Langkah Awal: Dirjen Tatang Muttaqin Buka Lokakarya Sekolah Model PM-KKA 2026 di Bogor
BOGOR, 8 Juni 2026 — Sebanyak 29 perwakilan satuan pendidikan dari berbagai wilayah di Indonesia resmi memulai langkah transformatif dalam dunia Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI).
Mulai hari ini hingga Kamis (11/6/2026) mendatang, para wakil dari Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) terpilih tersebut berkumpul di D'Anaya Hotel, Kota Bogor, untuk mengikuti "Lokakarya Pendampingan Sekolah Model Implementasi PM-KKA: Penguatan Identitas dan Strategi Pengembangan SPNF".
Kegiatan ini merupakan tahapan krusial bagi 29 lembaga piloting—yang berasal dari berbagai provinsi seperti Bali, Sulawesi Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat, hingga DKI Jakarta—untuk menjadi garda terdepan pendidikan kesetaraan.
Acara ini secara eksklusif dihadiri oleh satuan pendidikan yang terpilih sebagai model implementasi Pembelajaran Mendalam (PM) dan Kecerdasan Artifisial Koding (KKA), tanpa melibatkan instansi kedinasan, agar pendampingan berjalan lebih fokus dan terarah. Acara ini juga dihadiri oleh jajaran pimpinan Direktorat Pendidikan Nonformal dan Informal, di bawah arahan Direktur PNFI, Dr. I Gusti Made Ardana, S.Pd., M.T., dengan misi utama memperkuat kapasitas layanan pendidikan kesetaraan di Indonesia.
Ruang Refleksi dan Penguatan Identitas SPNF
Sesuai dengan semangat pelaksanaannya, lokakarya ini dirancang oleh Direktorat PNFI sebagai ruang refleksi, dialog, dan pendampingan intensif. Tujuannya adalah agar ke-29 lembaga model ini mampu mengenali kondisi dan karakteristik masing-masing, merumuskan identitas SPNF yang kuat, serta menentukan arah implementasi PM-KKA yang paling relevan dan kontekstual bagi peserta didiknya.
Dalam sambutan pembukaannya, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Kemendikdasmen), Tatang Muttaqin, S.Sos., M.Ed., Ph.D., menyoroti betapa pentingnya peran lembaga-lembaga terpilih ini.
Beliau memaparkan gambaran besar dari profil nasional 2.099 satuan pendidikan nonformal yang menunjukkan bahwa jalur pendidikan ini melayani kelompok yang sangat rentan: 93% peserta didik berada pada usia sekolah, 76% merangkap sebagai pekerja, dan 72% menghadapi tantangan sosial yang kompleks.
"Menghadapi peserta didik dengan karakteristik unik ini, implementasi Pembelajaran Mendalam dan Koding KKA tidak boleh kaku. Pendekatan kita harus kontekstual dan berpusat pada peserta didik (learner-centered)," tegas Dirjen Tatang Muttaqin di hadapan para pengelola dan fasilitator sekolah model.
Roh Empati dan Mendobrak Stigma Kesetaraan
Lebih jauh, Dirjen Tatang Muttaqin menekankan bahwa fondasi terpenting sebelum mengajarkan teknologi kecerdasan artifisial adalah kecerdasan emosional dan empati dari para pendidik. Mengambil contoh dari keseharian, beliau mengingatkan bahwa hal-hal fundamental seperti kebersihan diri dan kesehatan lingkungan peserta didik harus menjadi perhatian utama.
Mengutip riset longitudinal dari Universitas Harvard, beliau menegaskan bahwa kebahagiaan dan kesuksesan sejati tidak diukur dari materi, melainkan dari kekuatan dukungan sosial (social connection). Oleh karena itu, 29 SKB dan PKBM ini harus mampu menjadi ruang aman yang memberikan dukungan emosional bagi peserta didiknya.
Beliau juga memotivasi para peserta dengan mematahkan stigma bahwa sekolah kesetaraan tertinggal dari sekolah formal. Banyak lulusan PNFI yang telah membuktikan diri mampu bersaing hingga diterima di perguruan tinggi ternama seperti UI, UGM, dan ITB, bahkan menembus universitas di luar negeri. Potensi tak terbatas inilah yang harus terus digali oleh ke-29 sekolah model tersebut, salah satunya melalui strategi subsidi silang agar pendidikan berkualitas tetap inklusif bagi keluarga tidak mampu.
Ada Pengurus ASTINA DKI
Dalam acara penting ini, turut hadir Ibu Rita Mulyanti dan Bapak Kurtubi yang keduanya merupakan pengurus Asosiasi Tutor Pendidikan Kesetaraan Nasional (ASTINA) Wilayah DKI Jakarta. Mereka berdua diundang bukan dalam kapasitas sebagai perwakilan sekolah model, atau perwakilan organisasi melainkan menjadi tim narasumber dari Direktorat yang akan secara langsung mengawal jalannya acara ini secara bersama-sama.
"Saya senang sekali diundang, sekaligus berharap dapat menerima banyak masukan dan pembelajaran dari kawan-kawan wakil dari lembaga pilihan sekolah model PM dan KKA," ujar Ibu Rita.
Hal senada disampaikan oleh M. Kurtubi. Ia menekankan bahwa momentum lokakarya ini merupakan sebuah terobosan besar bagi dunia PNFI.
"Acara ini sangat penting mengingat bahwa implementasi PM dan KKA di tahun ini sangat berbeda formatnya dibandingkan saat tahun 2025, yang hanya mengkhususkan implementasi PM pada lembaga penerima BOS Kinerja," imbuhnya.
Menurutnya, pendekatan dengan menggaet 29 lembaga untuk dijadikan piloting sekolah model ini akan terus dikawal dan didampingi secara intensif hingga lembaga-lembaga tersebut siap menjadi sekolah rujukan nasional di bidang SPNF.
Menuju Rencana Tindak Lanjut yang Konkret
Acara puncak pada sore hari ini ditandai dengan pernyataan pembukaan resmi oleh Dirjen Tatang Muttaqin. "Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, Lokakarya Pendampingan Program Sekolah Model Implementasi Pembelajaran Mendalam dan Coding Kecerdasan Artifisial secara resmi saya nyatakan dibuka," ucapnya yang disambut tepuk tangan antusias para peserta.
Selama empat hari ke depan, perwakilan dari 29 lembaga—baik berstatus Negeri (SKB) maupun Swasta (PKBM)—diharapkan dapat berperan aktif, saling berbagi praktik baik, dan pada akhirnya merumuskan strategi pengembangan SPNF yang siap diaplikasikan sekembalinya mereka ke daerah masing-masing. (Admin)
#PendidikanKesetaraan, #SekolahModel2026, #PKBM, #SKB, #DeepLearning, #KecerdasanArtifisial, #KodingKKA, #TatangMuttaqin, #ASTINA,
Lokakarya PM-KKA 2026, Sekolah model SPNF 2026, Pembelajaran mendalam PKBM, Coding kecerdasan artifisial pendidikan kesetaraan, Dirjen Tatang Muttaqin Kemendikdasmen, Asosiasi Tutor Pendidikan Kesetaraan Nasional (ASTINA).
Sebanyak 29 lembaga SPNF (PKBM dan SKB) terpilih mengikuti Lokakarya Sekolah Model Implementasi Pembelajaran Mendalam dan Coding AI bersama Dirjen Tatang Muttaqin dan pengurus ASTINA di Bogor.
